Bursa Asia Kompak Menguat, IHSG Melemah Sendirian
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Jumat (16/10/2026), mengikuti penguatan Wall Street pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat.
Melansir CNBC, Indeks Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 1%, sementara Topix menguat 1,14%.
Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 1,22% saat pembukaan perdagangan, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq menguat 1,28%. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 naik 0,83%.
Penguatan bursa Asia terjadi setelah tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis. Investor beralih dari sejumlah saham teknologi unggulan ke sektor lain, sehingga indeks Dow Jones Industrial Average memimpin penguatan dengan melonjak lebih dari 500 poin atau sekitar 1,1%.
Indeks S&P 500 naik sekitar 0,3%, sedangkan Nasdaq Composite hanya menguat sekitar 0,1%. Penguatan tersebut sekaligus mengakhiri tren penurunan selama tiga hari berturut-turut bagi S&P 500 dan Nasdaq Composite.
Meski demikian, saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), khususnya produsen cip memori, masih tertekan sepanjang pekan ini. Kekhawatiran terhadap persaingan dari China menjadi salah satu faktor yang membebani saham-saham tersebut.
Saham Micron Technology ditutup menguat pada perdagangan Kamis, tetapi masih berada di jalur penurunan lebih dari 9% sepanjang pekan ini. Sementara itu, saham Seagate Technology dan Western Digital juga diperkirakan mencatatkan kerugian mingguan.
Tekanan terhadap saham teknologi juga dipicu kekhawatiran investor mengenai besarnya utang yang digunakan perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI. Saham perusahaan penyedia layanan komputasi awan khusus AI atau neocloud, CoreWeave, diperkirakan merosot sekitar 15% sepanjang pekan ini meskipun berhasil pulih pada perdagangan Kamis setelah anjlok tajam sehari sebelumnya.
Di sisi lain, perusahaan AI Anthropic mengungkapkan kepada investor bahwa pendapatannya pada kuartal III mencapai US$16,8 miliar. Informasi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar yang tengah menilai apakah pertumbuhan bisnis AI cukup kuat untuk menopang kenaikan harga saham perusahaan produsen cip.
Saham Nvidia dan Broadcom, dua perusahaan yang menjadi pemain utama dalam industri cip AI, masih berada di zona merah sepanjang pekan ini. Kondisi tersebut turut menambah tekanan terhadap indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite.
Secara mingguan, indeks S&P 500 tercatat turun hampir 1%, sedangkan Nasdaq Composite merosot lebih dari 2%. Sebaliknya, Dow Jones berada di jalur kenaikan sekitar 1% sepanjang pekan ini.
Managing Partner Notable Capital Jeff Richards menilai salah satu tantangan utama dalam industri AI dan teknologi selama enam hingga 12 bulan terakhir adalah terbatasnya informasi mengenai perusahaan-perusahaan yang masih berstatus privat. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis waktu setempat.
Menurut Richards, penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) oleh perusahaan AI seperti Anthropic dan OpenAI dapat membantu mengurangi kekhawatiran investor. Dengan semakin banyaknya informasi yang tersedia bagi publik, termasuk riset analis dan data operasional utama perusahaan, ketidakpastian pasar diperkirakan dapat mereda.
"Once we get more of the information out there - analyst coverage, detailed information on core metrics - into the market over the course of '27, I think a lot of those fears will ease," ujar Richards.
Di luar sektor teknologi, investor juga mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan, di tengah kenaikan harga energi setelah perang AS-Iran. Inflasi di tingkat produsen pada September mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022, sementara inflasi konsumen masih berada jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%.
Kondisi tersebut menambah tantangan bagi pasar keuangan karena tekanan inflasi dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS. Pelaku pasar kini menantikan rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan sebelum pembukaan perdagangan Wall Street pada Jumat, termasuk perusahaan asuransi Travelers dan bank Citizens Financial.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok tajam langsung pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026). Indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu dibuka di level 5.393,92, turun 469,86 poin atau 8,01% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di level 5.863,78.
Adapun total volume perdagangan tercatat 53,6 juta lot dengan nilai transaksi Rp922,33 miliar.
Pasar keuangan Indonesia masih akan dibayangi sejumlah sentimen negatif dari luar negeri, mulai dari pengumuman terbaru MSCI, memanasnya inflasi AS hingga perang.