Dolar Bisa Tembus Rp18.500? Ini Peringatan Ekonom
Jakarta, CNBC Indonesia - Usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar tersendiri (standalone) menyebabkan risiko arus modal keluar menjadi sangat tinggi.
Hal ini yang membuat mata uang rupiah mengalami tekanan dan mencapai Rp18.053/US$ pada pukul 10.40 WIB.
Kepala Departemen Makroekonomi INDEF, Muhammad Rizal Taufikurrahman mengatakan, meskipun pembahasan nasib pasar saham Indonesia di MSCI masih dilakukan hingga keputusan final di Juni 2027, tetapi investor dapat mengurangi eksposur sebelum keputusan final.
"Penjualan saham asing yang diikuti pembelian dolar berpotensi menekan rupiah, sementara memburuknya persepsi risiko dapat menjalar ke SBN dan menaikkan biaya pembiayaan," ujar Rizal kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2026).
Karena itu, Rizal menegaskan intervensi BI harus disertai transparansi kepemilikan saham, penindakan manipulasi, dan disiplin fiskal yang kredibel.
"Rp18.000 bukan otomatis titik krisis, tetapi pelemahan berkepanjangan akan mempermahal bahan baku impor dan pembayaran utang valas, menekan margin usaha, serta mengurangi ruang penurunan suku bunga," ujarnya.
"Tanpa pembenahan sumber ketidakpercayaan, stabilisasi kurs hanya membeli waktu dengan biaya ekonomi yang semakin besar," tegas Rizal.
Sementara itu, Equity Analyst Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus mengatakan bahwa usulan MSCI untuk mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah melalui risiko arus keluar modal asing dan peningkatan premi risiko investasi.
"Risiko ini relevan mengingat tercatat net foreign outflow saham Indonesia mencapai USD 4,9 miliar secara ytd di all market, sementara rupiah telah melemah lebih dari 7% secara year-to-date," kata Revo kepada CNBC Indonesia.
Revo pun memperkirakan untuk satu bulan ke depan, pergerakan rupiah berada di rentang Rp17.724-Rp18.499/US$ dengan keungkinan mencapa 74.9%. Sementara dengan rentang satu standar deviasi untuk satu minggu ke depan, sebesar Rp17.889-Rp18.280 dan tingkat kemungkinan 77%.
"Apabila ketidakpastian MSCI berlanjut dan memicu tambahan arus keluar modal, tekanan terhadap rupiah berpotensi bertahan di tengah DXY yang saat ini stabil di atas angka 100," ujarnya.